Saminisme Subur di Komunitas Suku Samin

Saminisme Subur di Komunitas Suku Samin

Sebuah ajaran atau doktrin dapat diserap oleh sekawanan komunitas. Disana direalisasikan dalam bentuk aktivitas sehari-hari. Lama kelamaan, ajaran tersebut tumbuh subur. Tentu dibarengi dengan keyakinan, bahwa ajaran tersebut mengena pada pola kehidupan mereka. Seperti halnya Saminisme, sebuah ajaran yang tumbuh subur di Komunitas suku Samin. Sekilas sejarah, Saminisme merupakan bentuk perlawanan atas kesewenangan yang merampas tanah dan digunakan untuk perluasana pohon jati. Dan itu terjadi pada masa pemerintahan Belanda di indonesia. Nama Samin diambil dari sepenggal nama seorang pelopor ajarana Saminisme yakni Samin Surosentiko yang asli adalah Raden Kohar.

Saminisme merupakan sebuah ajarana, pemahaman, doktrinase, atau konseptual penolakan atas pemerintahan kolonial Belanda dan penolakan paham kapitalis (Kapitalisme) di masa penjajahan Belanda pada abad ke-19. Sudah cukup lama, animisme di perkenalkan di sekitar 34 Desa di Blora bagian selatan distrik Bojonegoro. Saminisme tidak seketika tersebar dan teryakini di masing-masing individu. Samin Surosentiko berusaha menyebarkan berpuluh-puluh tahun lamanya.

Perjalanan Samin Surosentiko sangat panjang. Melampaui berbagai rintangan, sehingga Saminisme diyakinimasyarakat yang berada di Blora distrik Bojonegoro. Tahun 1890, Samin Surosentiko mulai menyebarkan ajarannya. Kata samin adalah sebuah nama bernafaskan kerakyatan. Jiwa kerakyatan lah menjadi acuan atas konsepsi saminisme tersebut. Tahun 1903, berkisar 722 orang telah menjadi pengikut Samin. Tersebar di seluruh 34 desa. Tahun 1907, Samin Surosentiko mendapatkan gelar dari pengikutnya sebagai Ratu Adil. Sengan nama Prabu Panembahan Suryangalam.

Selang 40 hari, Prabu Penembahan Suryangalam ditangkap Raden Pranolo, asisten Wedana Radublatung. Samin dan pengikutnya pun di buang keluar jawa pada tahun 1914. Tahun 1908, Samin dan pengikutnya menyebarkan ajaran distrik jawa dan Madiun dengan menghasut tidak membayar pajak yang dikenakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Sampai tahun 1930, Samin beserta pengikutnya, salah satu adalah menantu Samin terus berusaha menyebarkan ajaran Samin kepada masyarakat untuk lebih bersikap kritis pada pemerintah kolonial Belanda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *