Presiden Risau Tiket Nonton Timnas Bukan Nasib Rakyat Miskin

Presiden Risau Tiket Nonton Timnas Bukan Nasib Rakyat Miskin

“Tentang tiket, tadi pagi banyak sms harga tiket naik, saya berharap PSSI dengan semangat kebersamaan, tiket untuk rakyat tolong diatur jangan sampai terlalu tinggi sehingga di luar jangkauan sebagian rakyat kita, jangan kejar keuntungan semata,” kata Presiden kepada wartawan di sela acara peringatan hari Ibu ke-82 di Jakarta, Rabu siang. Sungguh sikap yang tidak peka akan kepentingan rakyat daripada kepentingan mayoritas. Jika halnya tiket dinaikkan, itu bukan lagi menjadi urusan Presiden, setidaknya Presiden lebih mengaktualisasikan pada wewenangnya. Lebih fokus pada kinerja pemerintah, bukan enak-enakan lihat bola. Jika memang dengan alasan memberikan suatu dukungan penuh atas Timnas, ok ok saja. Apa guna stasiun televisi, apa guna seorang jubir presiden itu kan perwakilan presiden yang mungkin bisa mewakili untuk menghadiri pertandingan tersebut.

Kita kembali ke pokok permasalahan. Mengapa masalah karena ini memang bermasalah. Jika memang Presiden lebih memilih untuk berpidato atas nama mayoritas, tentu saja dia akan mendapatkan suara. Dukungan penuh pasti didapatkan. Sebenarnya kerisauan Presiden selebihnya ditujukan pada rakyat miskin bukan rakyat elit. Elit, elit dan elit yang sering dibicarakan, merekalah sang mayoritas yang bisa membungkam suara rakyat miskin dengan uang.  Berikan langkah kongkrit kepada rakyat miskin, jangan hanya menyediakan lapangan kerja jika halnya pekerjaan tersebut ternyata masih sulit untuk didapatkan kepada para calon pekerja. Jangan hanya memberikan uanh tunai kepada rakyat miskin, tentu saja akan membawa dampak yang negatif bagi masyarakat. Tentunya menurunkan SDM masyarakat miskin. Dalam pembukaan Undang-undang udah mengatakan ikut mencerdaskan rakyat. Tentunya Presiden jangan mengandalakn bawahannya, sebagai sang eksekuti tentu bisa memberikan suatu rujukan bukan menjadi sebuah Undang-undang lagi tetapi program yang mana disitulah langkah kongkrit akan terealisasikan dengan mudah.

Dimohon dengan sangat janganlah presiden memberikan kerisauan kepada rakyat elit sangn mayoritas, setidaknya dengarkan suara rakyat miskin yang merintih seperti itu, tujukan semua untuk rakyat.Kursi yang dilimpahkan kepada Presiden sudah barang tentu berasal dari rakyat, ya wajiblah pengabdian penuh untuk rakyat. Rakyat miskin yang menjadi tujuan seorang Presiden, memberikan pencerahan bukan melalui uang tetapi pendidikan dan lapangan kerja yang menampung para pekerja. Jangan biaran suaru buruh berteriak kencang. Jangan dengarkan keresahan rakyat elit yang menggembor-gemborkan harga tiket mahal, dengarkan orang-orang miskin yang merintih kelaparan, besok makan apa, kerja apa, SDM pas pasan, akhirnya terpaksa bekerja apa adanya. Jangan lah apa adanya selalu hinggap apda diri orang miskin, berikan apa adanya itu menjadi hal yang luar biasa sehingga mereka lebih terampil dan bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri. hanya satu kunci kemakmuran, ” Tingkatkan SDM, bukan kemewahan yang diberikan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *