Optimalisasi Pluralisme Di Indonesia

Optimalisasi Pluralisme Di Indonesia

indonesia mempunyai karakterisitk yang unik yakni Negara majemuk. Negara yang memiliki beribu-ribu pulau dan mempunyai berbagai macam kebudayaan, adat-istiadat, kepercayaan (agama). Ini yang menjadikan konsep pluralisme harus ditanamkan dalam diri setiap individu baik dalam bentuk butir pancasila, undang-undang dasar, dan lainnya. Bahkan lebih penting lagi, peraturan daerah yang mampu memberikan pengaruh positif keapda setiap warga untuk menumbuhkan semangat toleransi antar sesame manusia tanpa melihat latar belakang sosial. Sebelumnya konsep Pluralisme “Suatu kerangka interaksi yg mana setiap kelompok menampilkan rasa hormat dan toleran satu sama lain, berinteraksi tanpa konflik atau asimilasi (pembauran / pembiasan).” Sehingga rasa hormat dan toleran menjadi pokok utama jika halnya kesatuan umat beragama khususnya tumbuh lebih Harmonis.

Hingga kini banyak sekali tindakan yang diberikan oleh pemerintah dalam menyikapi setiap keadaan atau problematikan yang dalam kurun waktu kini sikap setiap individu rasa idealisme yang berdasar pada unsur pluralisme kini makin luntur. Dengan melihat kondisi yang sungguh tidak berperikemanusiaan yang diperlihatkan oleh para aktivis yang bertindak anarkis. Terlihat masih banyak menggunakan hokum rimba dalam menuntaskan sautu masalah. Diketahui juga bahwa pihak yang melakukan anarkisme, seperti ada unsur dramatisir yang mana pihak kepolisian tidak melakukan tindakan tegas dalam kerusuhan Ahmadiyah dan Kelompok jas pita biru yang kini masih belum teridentifikasi siapa mereka.

Memang kelompok islam Ahmadiyah mengundang Pro dan Kontra. Apalagi bagi kelompok jas pita biru yang menjadi provokator suatu tindak anarkisme yang mengakibatkan jemaat Ahmadiyah mengalami luka-luka. Ini setidaknya ada suatu tindakan tegas baik aparatur Negara maupun masyarakat yang terjebak akan provokasi dari para kelompok jas pta biru. Tindak tegas dari aparatut Negara khususnya pihak kepolisian yang mempunyai wewenang dalam segi keamanan. Setidaknya peluang dalam menghentikan tindak anarkis tersebut sesegera mungkin, dan tidak akan mungkin jiwa baik jemaat maupun pihak provokasi mengalami luka-luka. Dan masyarakat yang terkait akan anarkisme tersebut lebih menggunakan akal sehat dalam menyelesaikan suatu masalah apalagi sudah menyangkut nyawa manusia.

Banyak sekali agenda deadline yang menjadi pekerjaan rumah bagi setiap warga Negara. Pertama, kesadaran akan karakteristik Indonesia yang majemuk setidaknya merangsang mind set kita untuk lebih menumbuhkan sikap toleransi dan hormat antar umat beragama khusunya yang kini masih saja bergejolak di negeri kita. Yang kedua, sikap tegas dan tanggap harus tertanamkan di tubuh segala aparatur Negara bukan hanya memberikan argument saja tapi realisasi yang lebih bertanggungjawab untuk lebih meningkatkan efektifitas atas kewenangan yang diberikan oleh Negara lewat pemerintah. Yang ketiga, Hukum harus ditegakkan, dan berusaha terus mencabut hukum rimba yang makin marak dinegeri kita. Setidaknya kesadaran akan Negara Indonesia yang merupakan Negara hukum menjadi dasar untuk mengoptimalisasi hukum yang sengaja dibentuk untuk menciptakan keamanan atas nama rakyat indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *