Konsistensi Luntur Akan Peluang

Konsistensi Luntur Akan Peluang

Sungguh segala jejak pendapat setiap orang terhadap seorang yang sangat merugikan rakyat sudah menjadi makanan sehari-hari. Semua yang sudah sejalan seidelis mungkin, masih saja ada yang mencoba masuk dan merusak tatanan kelembagaan yang terpusat pada kinerja masing-masing. Padahal, sudah barang tentuk kelembagaan tersebut dibangun mempunyai dasar yang kuat atas fungsional yang mencoba memberikan jalan tengah bagi masyarakat menengah kebawah untuk lebih sejahtera dan tidak hanya masyarakat bekerja memojokkan para elit politik yang sangat disegani terhadap kinerja yang tak sejalan dengan peraturan yang baku di dalam kelembagaan tersebut. Sudah sebut saja, direktorat pajak. Pemungutan pajak dari rakyat pastinya kembali juga ke rakyat. Tetapi, mengapa tega sekali para oknum memakan uang rakyat. Dimana rasa keprihatinan mereka terhadap taraf kemiskinan yang masih membelenggu indonesia. Sepat terfikirkan sekilas saja tapi sekarang entah kemana. Pembuktiannya, sampai di dalam tubuh direktorat pajak, banyak sekali mafia pajak yang merekalah para politikus yang seperti tikus rakus akan harta. Sungguh bau kekejian atas sikap yang dilakukan terhadap pajak. Setiap orang dinyatakan wajib pajak, pembayaran pajak tidak pernah terlambat, tetapi pembangunan selalu mendapatkan hambatan. Apa karena kuman-kuman yang singgah dalam tubuh kelembagaan tersebut sehingga proses pembangunan pun tak seefektif mungkin. Kadang kita sebagai wajib pajak, masih saja merasa risau akan kinerja dalam direktorat pajak, sehingga pembayaran pajak pun sengaja diperlambat. Sungguhpun, pembangunan tak akan pernah berjalan sesuai agenda kerja yang dimiliki oleh setiap pemerintah daerah.

Beginilah, setiap orang yang berada pada garis idealis, para terpelajar. Apa yang didapatkan selama di dunia pendidikan ( siswa & mahasiswa ) hanya sebatas pengenalan saja. Meskipun diluar dari itu, terjadi selalu semacam hal yang tak lain suap menyuap. Inilah hasil kekotoran budaya yang dibangun dalam mengimplementasikan peraturan yang mana berdasarkan pada pra kondisi yang serba terbuka ( demokrasi ). Sehingga disanalah jalan untuk memanuver data yang semata bergantung pada mafia politik yang rakus akan harta. Mainset tertata rapi, tapi implementasi tak pernah sejalan dengan apa yang di harapkan. Konsistensi pun luntur akan kerakusan. Peluang mendapatkan lebih terhadap jabatan yang di sandangnya pun sungguh begitu mudah dengan melihat budaya yang dibangun meskipun didasarkan pada peraturan yang berlaku tetapi tetap saja masih ada unsur manipulasi. Disinilah kita sebagai murid terpelajar, jangan hanya terdiam membisu melikat tingkah laku para elit politik yang lincah seperti kancil mencuri ketimun. Yang selalu ingin lebih dan lebih selagi ada kesempatan. Jangan hanya mengatakan waspada waspada saja, tetapi setidaknya mencari jalan keluar bagi diri kita untuk lebih berani menghadapi, menggobrak jalannya kelembagaan yang sudah menyimpang pada fungsional yang efektif terhadap jalannya pembangunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *