Banyuwangi: Teater Adat Kawin Colongan

Adat kawin colongan merupakan adat Tempo Dulu Kabupaten Banyuwangi. Untuk dapat mengetahui seperti apa adat tersebut, kabupaten Banyuwangi mengadakan sebuah Teater yang menampilkan cerita tradisi kawin colongan di seni budaya Taman Blambangan (26/5/12). Cukup banyak yang hadir dari warga sekitar sampai Bupati juga hadir dalam pertunjukan ini, sampai 2 orang turis asal Jerman dan Prancis juga menyaksikan acara ini.

Dalam Teater tersebut, menceritakan bahwa tempo dulu ada seorang yang bernama Darmono warga Banyuwangi. Dia adalah seorang ayah yang mempunyai anak perempuan bungsu bernama Darwani. Dan dia juga mempunyai perguruan silat.

Di waktu yang bersamaan, ada warga lain bernama Ibu Rehana yang juga mempunyai seorang anak laki-laki bernama Nur Zaman. Nur Zaman menjalin cinta dengan Darwani, sayangnya tidak mendapatkan restu dari keluar Darwani yang tidak lain Bpk. Darmono.

Karena dua sejoli ini cinta mati, akhirnya proses kawin colongan pun ditempuh. Dalam proses kawin colongan, dimana calon pengantin laki-laki membawa calon pengantin perempuan dari rumahnya tanpa sepengetahuan orang tuanya.

Setelah di colong, calon pengantin perempuan dibawa pulang ke rumah pengantin laki-laki setelah berhasil dicuri. Calon pengantin laki-laki mengirim utusan pada keluarga calon pengantin perempuan untuk memberitahukan bahwa calon pengantin perempuan sudah ada di rumah pengantin laki-laki.

Untuk utusan pengantin laki-laki disebut istilah colog. Colog tugasnya memberikahukan keberadaan calon pengantin perempuan kepada orang tua perempuan. Di waktu yang sama, colog juga bertuga untuk melakukan proses negosiasi tentang pelaksanaan akad dan resepsi pernikahan dengan keluarga pengantin perempuan.

Tentu, dari awal keluarga pengantin perempuan tidak setuju tentang drama percintaan anaknya dengan Nur Zaman. Ketika proses negosiasi dilaksanakan, membutuhkan waktu yang lama. Dan tidak langsung mendapat persetujuan dari pihak keluarga perempuan.

Bahkan sempat terjadi kontak fisik antar keluarga meskipun akhirnya mereka yakni keluarga Darwani mau melaksanakan akad nikah dan resepsi pernikahan. Sebelum memberikan persetujuan, keluarga perempuan sempat mengajukan satu syarat yang diberikan kepada keluarga pengantin laki-laki. Yakni, minta diajari ilmu silat baru kepada keluarga calon pengantin laki-laki.

Dan akhirnya Darwani dan Nur Zaman mendapatkan restu dari keluarga masing-masing. Dan cinta mereka pun sampai di atas pelaminan sebuah pernikahan sah tanpa adanya paksanaan dari salah satu pihak keluarga pengantin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *